INDONESIANEWSCOVER.COM
BOGOR — Estafet kepemimpinan dan pelestarian seni budaya Sunda di Kota Bogor memasuki babak baru. Yayasan Palataran Pakujajar Sipatahunan (YPPS), wadah kebudayaan bersejarah yang berdiri sejak tahun 1984, secara resmi menyerahkan amanah dan mandat jabatan Ketua Harian kepada putera daerah Kota Bogor, Kang Hizriyanda Putra. Penunjukan ini diberikan langsung oleh Kang Wirabratha Arifin, putra dari mendiang sosok maestro seni Sunda, Ma Ageung (Tien Rostini Asikin) , Oktober 2026
Sebagai alo atau keponakan langsung dari keluarga besar Ma Ageung, Kang Hizriyanda Putra tidak hanya mewarisi pertalian darah, tetapi juga memikul visi serta komitmen mendalam untuk merawat nilai-nilai warisan leluhur.
Meneruskan Legasi "Ma Ageung" Tien Rostini Asikin
Kehadiran Kang Hizriyanda Putra di pucuk pimpinan harian YPPS melanjutkan rekam jejak panjang lembaga kebudayaan yang mengukir sejarah di Kota Bogor. Didirikan pada Desember 1984 (dan dilegalisasi sebagai yayasan pada 1987) oleh almarhumah Tien Rostini Asikin, yang akrab disapa Ma Ageung. YPPS telah melahirkan berbagai prestasi internasional, mulai dari Brussels di Belgia hingga Australia, serta menjadi wadah pembinaan generasi muda dan pelestarian seni.
Sebagai tonggak kepemimpinannya untuk periode 2026–2031, Kang Hizriyanda menetapkan tagline yayasan:
"Ti Titinggal Karuhun, Ngagelarkeun Kaendahan, Ngawariskeun Kahormatan" (Dari Warisan Leluhur, Menggelarkan Keindahan, Mewariskan Kehormatan).
Program Unggulan: Gelar Pamor Pesona Tradisi "Sunda" Nusantara Dunia
Mengawali masa baktinya pada Oktober 2026, Kang Hizriyanda Putra langsung meluncurkan gagasan strategis kebudayaan bertajuk Gelar Pamor Pesona Tradisi "Sunda" Nusantara Dunia. Program ini dirancang bukan sekadar panggung festival seremonial, melainkan sebuah gerakan kebudayaan yang berkelanjutan.
Program tersebut mengusung tagline:
"Ngamumule Budaya, Ngahirupkeun Tradisi, Ngamancarkeun Pesona Nusantara ka Dunya".
Melalui gagasan ini, YPPS memfokuskan gerakannya pada lima pilar utama:
1. Pelestarian dan Pewarisan Tradisi Sunda.
2. Pertunjukan dan Apresiasi Budaya Sunda.
3. Regenerasi dan Pendidikan Seni Sunda.
4. Diplomasi Budaya Sunda Nusantara Dunia.
5. Ekonomi Kreatif Berbasis Tradisi Sunda.
Ragam kesenian khas Sunda seperti Rampak Sekar, Rampak Degung, Jaipongan, Seni Ibing Pencak Silat Tradisi, Rampak Kendang, hingga Teater Rakyat dan Wayang Sunda akan diberi ruang pembelajaran, regenerasi, dan panggung pertunjukan yang inklusif. Kegiatan ini dikemas ke dalam tiga format utama: Pamor Rutin (pertunjukan bulanan & latihan terbuka), Pamor Edukasi (lokakarya maestro & riset/dokumentasi), dan Pamor Festival (gelar karya tahunan).
Makna Filosofis Palataran Pakujajar Sipatahunan
Dalam pemikirannya, Kang Hizriyanda Putra menegaskan kembali makna filosofis mendalam di balik nama wadah yang dipimpinnya:
Palataran: Halaman terbuka atau ruang sosial tempat bertemunya manusia, alam, dan tradisi dalam tiga dimensi (alam, balerea, rasa).
Pakujajar: Tonggak penegak keseimbangan (tritangtu) yang menyelaraskan kehidupan dan menjaga keteguhan peradaban Sunda.
Sipatahunan: Kesetiaan dan kesinambungan nilai budaya yang abadi melampaui perjalanan waktu (Katilimbeng ku mangsa, tapi teu leungit ku jaman).
"Kebudayaan sejati tidak hanya hidup di panggung, tetapi tumbuh dalam perilaku, melekat dalam jati diri, dan berlanjut dalam pengabdian. Ti karuhun urang nyokot tapak, dina mangsa kiwari urang miara, pikeun mangsa hareup urang ngawariskeun," tegas Kang Hizriyanda Putra.
Dengan amanah baru ini, sosok putera daerah Kota Bogor tersebut berkomitmen membawa Seni Budaya Sunda dari Kota Bogor tidak hanya berakar kuat di tatar Nusantara, tetapi juga memancarkan pesonanya ke kancah internasional. ( Dega )

Posting Komentar untuk "Meneruskan Jejak Sang Maestro Ma Ageung, Hizriyanda Putra Bangkitkan Pesona Budaya Sunda melalui Yayasan Palataran Pakujajar Sipatahunan"