Indonesianewscover.com
Bogor 10-04-2026 Kekhawatiran terhadap maraknya kecanduan gim dan judi online pada anak-anak kini menjadi ancaman nyata di tengah masyarakat. Menyadari kondisi tersebut, kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Nasional Pendanaan Equity digelar di Aula Kantor Desa Leuwikaret, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, pada Kamis, 9 April 2026.
Mengusung tema “Edukasi Kesehatan Digital Keluarga Untuk Mencegah Kecanduan Gim dan Judi Online Dalam Menguatkan Kecakapan Digital Masyarakat”, acara ini dihadiri oleh Kepala Desa Leuwikaret Hendi Darsan, Ketua Tim PKM Gunawan Wiradharma, jajaran staf desa, serta puluhan ibu-ibu bersama anak-anak yang tampak antusias mengikuti kegiatan.
Suasana aula dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Para ibu datang bukan sekadar menghadiri acara, tetapi membawa kegelisahan yang sama: bagaimana menyelamatkan anak-anak mereka dari ancaman dunia digital yang kian tak terkendali.
Dalam sambutannya, Hendi Darsan menegaskan pentingnya peran orang tua, khususnya ibu, dalam mengawasi penggunaan telepon genggam oleh anak-anak.
“Jangan sampai anak-anak kita kecanduan gim, judi online, atau terpapar konten yang tidak pantas. Handphone itu tidak punya sensor. Ibu-ibu harus hadir setiap hari, mengontrol dan membatasi penggunaannya,” tegasnya dengan nada serius.
Ia juga mengingatkan agar anak-anak tidak dibiarkan menggunakan ponsel tanpa batas waktu, terutama setelah pulang sekolah. Menurutnya, kelalaian kecil bisa berdampak besar terhadap masa depan generasi muda.
Sementara itu, Ketua Tim PKM Gunawan Wiradharma melalui pemaparannya menjelaskan secara mendalam tentang bahaya kecanduan gim dan judi online yang kini semakin mudah diakses melalui perangkat digital.
Dengan pendekatan yang komunikatif, ia memaparkan bahwa kecanduan digital bukan sekadar kebiasaan, melainkan dapat berkembang menjadi gangguan serius yang memengaruhi perilaku, emosi, hingga masa depan anak.
“Anak-anak adalah generasi yang tumbuh bersama teknologi. Tapi tanpa pendampingan, teknologi bisa menjadi ancaman yang menghancurkan,” ujarnya di hadapan peserta.
Tak hanya memaparkan bahaya, tim PKM juga memberikan sejumlah solusi konkret kepada para ibu, di antaranya:
- Membatasi waktu penggunaan gadget secara disiplin setiap hari
- Mengawasi konten yang diakses anak
- Mendorong aktivitas positif di luar dunia digital
- Menjalin komunikasi terbuka antara orang tua dan anak
- Memberikan edukasi tentang bahaya judi online dan konten negatif sejak dini
Kegiatan ini tidak hanya menjadi forum edukasi, tetapi juga ruang refleksi bagi para orang tua. Di tengah derasnya arus digitalisasi, keluarga menjadi benteng terakhir dalam melindungi anak-anak dari pengaruh negatif teknologi.
Lebih lanjut, Ketua Tim PKM, Gunawan Wiradharma, menekankan bahwa fenomena kecanduan gim dan judi online pada anak bukan lagi sekadar isu biasa, melainkan sudah masuk tahap mengkhawatirkan.
Ia menjelaskan bahwa banyak anak saat ini mengalami perubahan perilaku signifikan akibat paparan gadget yang tidak terkontrol. Mulai dari sulit fokus belajar, mudah emosi, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial.
“Anak yang sudah kecanduan biasanya akan sulit diatur, emosinya tidak stabil, bahkan bisa berbohong demi tetap bermain. Ini yang harus diwaspadai sejak dini oleh orang tua,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti maraknya praktik judi online yang kini dikemas secara terselubung dalam bentuk permainan digital yang tampak ‘biasa’. Menurutnya, banyak orang tua yang tidak sadar bahwa anak-anak mereka sebenarnya sudah terpapar aktivitas berbahaya tersebut.
“Kadang orang tua mengira itu hanya permainan biasa, padahal di dalamnya ada unsur taruhan. Ini sangat berbahaya karena bisa merusak pola pikir anak sejak kecil,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, ia juga mengingatkan bahwa pendekatan orang tua tidak boleh hanya bersifat melarang, tetapi harus disertai dengan komunikasi yang hangat dan edukatif.
“Jangan hanya melarang tanpa penjelasan. Anak perlu diajak bicara, diberi pemahaman, dan yang paling penting—diberi contoh oleh orang tuanya sendiri,” tambahnya.
Ia pun menekankan bahwa pengawasan bukan berarti mengekang, melainkan bentuk kasih sayang dan tanggung jawab orang tua dalam menjaga masa depan anak di era digital.
“Kalau kita lengah hari ini, dampaknya bisa kita rasakan bertahun-tahun ke depan. Ini bukan hanya soal gadget, ini soal masa depan generasi kita,” pungkasnya.
Di akhir acara, para peserta tampak lebih sadar dan siap mengambil peran aktif dalam mendampingi anak-anak mereka. Harapan pun menggantung di ruang aula sederhana itu—bahwa dari Desa Leuwikaret, langkah kecil ini bisa menjadi awal perubahan besar dalam melindungi generasi masa depan.
Karena di balik layar kecil sebuah ponsel, ada masa epan anak-anak yang sedang dipertaruhkan.
Aa IncTv



Posting Komentar untuk "Pengabdian orang tua yang adaptif Agar anak tidak kecanduan digital Dibekali Edukasi Gim dan Judi Online"